Beranda | Artikel
Menunda Shalat Sengaja: Dosa Besar yang Sering Diremehkan – Syaikh Saad Al-Khatslan #NasehatUlama
23 jam lalu

Pertanyaan kedua tentang orang yang menunda shalat dengan sengaja hingga waktunya habis.

Menunda shalat dengan sengaja hingga waktunya habis, termasuk dosa besar. Allah Ta’ala telah mengancam orang yang melakukannya melalui firman-Nya: “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna ayat itu adalah mereka menunda shalat hingga waktunya habis. Allah ‘Azza wa Jalla terlebih dahulu menyebut mereka sebagai orang-orang yang shalat, akan tetapi mereka lalai dari shalatnya, yaitu dengan menundanya hingga keluar dari waktunya. Maka Allah ‘Azza wa Jalla mengancam mereka dengan al-wail (kecelakaan). Menunda shalat hingga habis waktunya dengan sengaja, menurut para ulama, termasuk dosa besar.

Karena itu, siapa pun yang terjatuh dalam perbuatan ini wajib bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Seandainya ia punya perhatian besar pada shalat, pasti tidak akan menundanya hingga waktunya habis. Sebenarnya ia hanya perlu meningkatkan perhatiannya saja. Meningkatkan perhatiannya terhadap shalat. Jika perhatian terhadap shalat ditingkatkan, maka ia tidak akan lagi menundanya.

Terlebih lagi, waktu-waktu shalat sebenarnya cukup panjang. Waktu Shalat Subuh dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbit matahari, dan itu tidak kurang dari satu jam. Waktu Shalat Zhuhur juga lapang, bahkan bisa mencapai tiga jam atau lebih, yakni sejak matahari tergelincir ke barat hingga masuk waktu ashar. Adapun Shalat Ashar, waktu utamanya hingga matahari mulai menguning, dan waktu daruratnya hingga matahari terbenam. Seluruh rentang itu merupakan waktu Shalat Ashar. Shalat Maghrib juga waktunya tidak kurang dari satu jam. Sedangkan shalat Isya waktunya hingga pertengahan malam. Artinya, waktu-waktu shalat pada dasarnya cukup longgar.

Lalu mengapa telat seperti ini? Mengapa ditunda hingga waktunya habis? Ini menunjukkan lemahnya perhatian orang itu. Kaum laki-laki wajib mendirikan shalat berjamaah di masjid. Adapun kaum perempuan, hendaknya melaksanakan shalat pada waktunya. Tidak boleh diakhirkan hingga keluar dari waktunya. Apabila seseorang ingin menjaga shalatnya, maka ia harus punya perhatian terhadapnya.

Faktor pertama untuk menjaga pelaksanaan shalat, tentu perhatian yang besar terhadapnya. Adapun jika shalat hanya selingan dan perhatian terakhirnya, maka penundaan itulah yang akan terjadi. Apabila shalat tidak menjadi perhatian terbesarnya, ia pasti akan menunda-nundanya. Hari ini ditunda, hari berikutnya terasa berat, dan pada hari lainnya muncul berbagai alasan.

Namun, apabila tingkat perhatiannya terhadap shalat benar-benar tinggi, tentu ia tidak akan menunda-nundanya. “Dan sungguh shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45).

=====

سُؤَالُهَا الثَّانِي تَسْأَلُ عَمَّنْ يُؤَخِّرُ الصَّلَوَاتِ عَمْدًا إِلَى خُرُوجِ وَقْتِهَا

تَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَمْدًا حَتَّى يَخْرُجَ وَقْتُهَا مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَقَدْ تَوَعَّدَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

كَمَا جَاءَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَعْنِي يُؤَخِّرُونَ عَنْ وَقْتِهَا فَسَمَّاهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَوَّلًا بِالْمُصَلِّيْنَ وَصَفَهُمْ اللَّهُ تَعَالَى بِالْمُصَلِّيْنَ هُمْ يُصَلُّوْنَ وَلَكِنَّهُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ يَعْنِي يُؤَخِّرُونَ عَنْ وَقْتِهَا فَتَوَعَّدَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْوَيْلِ وَتَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَنْ وَقْتِهَا عَمْدًا مَعْدُودٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنَ الْكَبَائِرِ

فَعَلَى مَنْ يَقَعُ مِنْهُ ذَلِكَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ إِذَا اهْتَمَّ بِالصَّلَاةِ لَنْ يُؤَخِّرَ عَنْ وَقْتِهَا إِذًا بَسْ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ عِنْدَهُ فَقَطْ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِالصَّلَاةِ وَإِذَا اهْتَمَّ بِهَا فَإِنَّهُ لَنْ يُؤَخِّرَهَا

خَاصَّةً أَنَّ أَوْقَاتَ الصَّلَوَاتِ وَاسِعَةٌ يَعْنِي وَقْتُ الْفَجْرِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ لَا يَقِلُّ عَنِ السَّاعَةِ الظُّهْرُ مُتَّسِعٌ قَدْ يَصِلُ إِلَى ثَلَاثِ سَاعَاتٍ أَوْ تَزِيدُ يَعْنِي مِنَ الزَّوَالِ إِلَى أَذَانِ الْعَصْرِ الْعَصْرُ الْوَقْتُ الِاخْتِيَارِيُّ اصْفِرَارُ الشَّمْسِ وَالضَّرُورَةُ لِغُرُوبِ الشَّمْسِ هَذَا وَقْتُ الْعَصْرِ كُلُّهَا الْمَغْرِبُ كَذَلِكَ يَعْنِي يَصِلُ لِمَا لَا يَقِلُّ عَنِ السَّاعَةِ الْعِشَاءُ إِلَى مُنْتَصَفِ اللَّيْلِ يَعْنِي أَوْقَاتُ الصَّلَاةِ مُتَّسِعَةٌ

فَلِمَاذَا هَذَا التَّأْخِيرُ؟ لِمَاذَا يُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا؟ هَذَا يَدُلُّ عَلَى قِلَّةِ الِاهْتِمَامِ الرِّجَالُ عَلَيْهِمْ أَنْ يُصَلُّوا مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَمَّا النِّسَاءُ فَعَلَيْهِنَّ أَنْ يُصَلِّينَ الصَّلَوَاتِ فِي أَوْقَاتِهَا وَلَا يَجُوزُ تَأْخِيرُ الصَّلَاةِ عَنْ وَقْتِهَا وَإِذَا أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يُحَافِظَ عَلَى الصَّلَاةِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَهْتَمَّ بِهَا

أَوَّلُ سَبَبٍ لِلْمُحَافَظَةِ عَلَى الصَّلَوَاتِ الِاهْتِمَامُ بِهَا أَمَّا إِذَا كَانَتِ الصَّلَاةُ عَلَى الْهَامِشِ هِيَ آخِرُ اهْتِمَامَاتِهِ هَذَا هُوَ الَّذِي يَقَعُ مِنْهُ التَّأْخِيرُ إِذَا لَمْ تَكُنْ الصَّلَاةُ هِيَ أَكْبَرُ هَمِّهِ سَيُؤَخِّرُهَا يَوْمًا يُؤَخِّرُهَا وَيَوْمًا يَتَثَاقَلُ فِيهَا وَيَوْمًا كَذَا

لَكِنْ لَوْ كَانَ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِالصَّلَاةِ كَبِيرٌ فَإِنَّهُ لَنْ يُؤَخِّرَهَا أَبَدًا وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ


Artikel asli: https://nasehat.net/menunda-shalat-sengaja-dosa-besar-yang-sering-diremehkan-syaikh-saad-al-khatslan-nasehatulama/